Thursday, 17 July 2008

Tarbiyah Dzatiyah..Kita Bagaimana ???

Tiada arti sebuah keberhasilan proses tarbiyah rasmiyah (pendidikan: formal) tanpa di barengi kemampuan seorang mutarabbi (anak didik) dalam mengaktualisasikan dirinya sebagai nukhbah (kader) yang dinamis, sensitif dan bijak (hay, hassas, hakim). Cermatilah kecermelangan tarbiyah dzatiyah (pendidikan diri) tokoh-tokoh sejarah berikut.

Keluarga Nabi Ibrahim, AS.

Ummu Ismail tak berhasil mencari jawaban dari Nabi Ibrahim kenapa sang suami tega meninggalkan mereka di lembah tak bertanaman, tanpa kerabat dan bekal, kecuali sekantung makanan dan minuman untuk hari itu. Maka ia mencoba mencari pertanyaan lain yang mencairkan segala yang beku, membukakan segala yang buntu, dan memudahkan segala yang mustahil, “Allah kah yang menyuruhmu meninggalkan kami disini?" tanya Ummu Ismail. “Ya,” jawab Ibrahim. "Bila demikian, pastilah Ia tak akan menyia-nyiakan kami”, sahut Ummu Ismail.

Pada kondisi paling kritis dan dilematis itu, ia berhasil mengambil keputusan terbaik. Padahal sangat manusiawi, bila ia meminta agar Allah melimpahkan bahan makanan. Tapi yang dilakukan justru berdoa agar keturunannya menegakkan shalat, agar sebagian umat manusia mencintai mereka, baru kemudian ia minta agar Allah memberikan mereka rezeki buah-buahan (QS. 14;37). Ia memang pemimpin visioner.

Atau betapa bijaknya Ismail alaihissalam ketika ayahnya mengungkapkan, “Aku melihat dalam mimpi, bahwa aku menyembelihmu. " Ismail menjawab, “Lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah engkau akan temukan daku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. 37:102)
Berbeda sekali dengan jawaban Yam bin Nuh yang telah menyaksikan langit pecah menumpahkan air berderai-derai dan bumi membelah mengeluarkan banjir bandang, lalu menjadi paduan ombak yang menggunung. Ternyata, ia masih yakin dapat berlindung ke bukit dan enggan bergabung dengan bapaknya dalam bahtera penyelamat (Qs, 11: 42-44). Inilah tanda kegagalan tarbiyah dzatiyah dan dominasi pandangan khas materialisme, yang di kurun ini kian merebak.

Nabi Yusuf, AS.

Ditengah paksaan isteri pembesar Mesir yang mengajaknya berbuat mesum, Yusuf as menjawab, “Aku berlindung kepada Allah.” Dan ketika isteri pembesar Mesir memprovokasi suaminya untuk menjatuhkan hukuman berat atau memenjarakannya, Yusuf mengajukan pembelaan yang sangat tegas dan polos, "Dia yang merayu diriku." hal yang di belakang hari dijawabnya dengan kata-kata yang lebih dewasa dan elegan.
Ketika raja memintanya datang ke istana karena kecemerlangan menta’wil mimpi, Yusuf menyuruh sang utusan kembali untuk menanyakan kisah wanita-wanita yang mengiris-iris jari mereka sendiri saat Yusuf melintas. Maka ia tak perlu lagi mengatakan dia (isteri pembesar Mesir) yang merayuku, justru isteri pembesar Mesir yang semula main penjara dan siksa, kini mengaku bahwa ia yang merayu dan Yusuf menjaga diri.

Para Sahabat dan Tarbiyah Dzatiyah

Lembaran sejarah para sahabat juga memberikan bukti keberhasilan tarbiyah dzatiyah. Disaat banyak anak-anak bangsa menjadi kolaborator asing dan membenamkan negeri mereka ke kancah kehinaan, Ka’ab bin Malik menjadi contoh paling orisinal bagi kesetiaan, kesabaran, introspeksi diri dan kerendahan hati. Ia tidak tergiur oleh surat rayuan raja Ghassan yang menawarkan suaka politik, “Kudengar bosmu memboikotmu, padahal tak pernah engkau di (perlakukan) hina. Berangkatlah kepadaku, nanti aku santuni (muliakan) engkau.” (HR Bukhari, Muslim dll). Dengan cepat ia bakar surat itu, "inilah dia bala’ yang sebenarnya," katanya.

Atau Abu Rabi’, pembantu urusan harian Rasulullah saw. Melihat keseriusannya, Rasul menawarkan apa kiranya yang diinginkannya. As-aluka murafaqata-ka fil Jannah (Aku meminta untuk tetap dapat menemanimu didalam surga), pinta Abu Rabi. "Nah, bantulah aku untuk dapat menolongmu, dengan banyak bersujud,” jawab Rasulullah saw. Ia menuntut sesuatu yang jauh diatas nilai-nilai bumi dan sang guru menyiratkan jalan sejati menuju kebahagiaan sejati, suatu ungkapan bernuansa tarbiyah dzatiyah.

Kegagalan Tarbiyah Dzatiyah

Beberapa episode perjalanan Bani Israel bersama Nabi Musa mengajarkan kita betapa pentingnya tarbiyah dzatiyah. Mereka tahu kedatangan Nabi Musa untuk misi penyeiamatan. Apapun yang mereka alami, kemenangan adalah kepastian. Namun, mereka gagal (Qs. 7:128-129).

Tenggelamnya Fir’aun di laut dan selamatnya Bani Israel dari Fir’aun, tak menyisakan setitikpun keraguan untuk memasuki Bumi Suci yang dijanjikan (QS 5:20). Namun, peristiwa itu seperti terjadi tanpa kuasa Allah. Mereka lebih memandang tubuh besar bangsa Amalek (raksasa) yang menduduki Kota Suci daripada janji kemenangan dari Allah, Berita tenggelamnya Fir’aun yang perkasa adalah kegemparan besar yang mampu membuat siapapun lari tunggang-langgang menghadapi pengikut Nabi Musa. Namun, mereka justru menyampaikan ungkapan dekil yang khas, agar Musa dan Allah berperang disana, baru sesudah itu mereka masuk.

Karenanya, mereka dikutuk. Berputar-putar di padang Tih, 40 tahun tak dapat memasuki kota suci yang dijanjikan. Allah masih memberikan mereka perlindungan berupa awan yang menaungi mereka dari sengatan terik matahari dan makanan instan Manna dan Salwa. Namun, baru beberapa saat mereka sudah protes, “Hai Musa, kami tak bakal sabar menerima satu jenis makanan. Karenanya berdo’alah untuk kami kepada tuhanmu, agar Ia mengeluarkan untuk kami tumbuhan bumi. (Qs. Al-Baqarah: 61). Perhatikan, bahasa apa yang mereka gunakan dihadapan nabi?.

Dimana Kita?

Kita adalah satu di antara dua profil berikut. Alkisah, dua pasang belia membangun rumah tangga. Lepas walimah, sang suami pun harus berangkat lagi membina kader-kader da’wah, kerja yang biasa dilakukan sampai larut malam. Malam panjang tanpa suami pun menderanya, membungkusnya dalam selimut sunyi lalu melemparnya dalam nyala bara yang menghanguskan keindahan hari-hari madu mereka. Perangpun mulai berkecamuk, zauji au da’wati? (Isteriku atau da’wahku?).

Dengan mantap sang da’i merangkum kata menang, “Adindaku, kita bertemu di jalan da’wah. Allah melimpahkan kebahagiaan kepada kita dengan membimbing langkah kita ke da’wah yang diberkahi-Nya. Haruskah kita meninggalkannya, sesudah kekuatan kita bersatu dan bertambah untuk lebih melipatgandakan kontribusi kita bagi da’wah? Jangan kita langgar janji kita kepada-Nya, sehingga keturunan kita kelak akan tercerai-beraikan oleh khianat kita.”

Tahun-tahun da’wah silih berganti. Ketika bayang-bayang kejenuhan dan kepenatan melintas, isteri tercintalah yang tak bosan-boson mengobarkan semangat da’wah dan pantang menyerah. Sampai anak-anak mereka tak punya fikiran menyuruh tamu-tamu menelpon di lain waktu karena ayahnya sedang istirahat. Mereka berlomba membangunkannya. Ia jadi yakin, da’wahlah yang membangunkannya bukan anak-anak yang berkolaborasi dengan tamu dan penelpon yang tak tahu etika itu.

Profil yang satu lagi menghadapi hal yang sama, "isteriku atau dakwah?” Satu jurus saja ia jatuh. Ketika dievaluasi, ia menangis dan bertekad, hujan, guntur dan badai tak boleh lagi menghalanginya dari tugas da’wah. Dan saat ia telah bersiap melaksanakan tekad dan ikrarnya, tiba-tiba terdengar suara sang mertua. “Mertuaku atau da’wahku? Sekali lagi ia tersungkur.

Tahun-tahun lewat berbilang, kedua profil ini bertemu, yang satu dengan produk da’wah yang penuh berkah yang lain dengan kemurungan, dunia yang membelenggu dan urusan keluarga yang tak kunjung selesai.

dipetik dari Al Marhum KH Ustaz Rahmat Abdullah. Mantan Ahli DPR , Indonesia. Aktivis dakwah Partai Keadilan Sejahtera (PKS)

Amat malang bagi kita, andai hanya tahu melaungkan suara perjuangan, tapi kurang ambil peduli dengan hal tarbiyah dzatiyah. Mutabaah amal yang tidak dijaga, tapi suara melaungkan kata - kata semangat semata - mata. Pejuang Islam yang sebenar, pasti akan selalu bermuhasabah diri untuk memeriksa perihal tarbiyahnya. Ada orang lebih gemar untuk berdemonstrasi, bertakbir di jalan raya kononnya memperjuangkan agama, tapi malang hubungan diri sendiri dengan Allah dan Rasul masih samar - samar. Usah jadi manusia yang tertipu dengan permainan syaitan. Berapa ayat alQuran yang kita baca dalam seharian kehidupan kita, berapa patah ayat yang kita hafal dalam seminggu kehidupan kita, berapa hadis nabi yang kita sematkan di hati kita, berapa kali dalam seminggu kita berusaha untuk bangun malam bertahajud , merintih , bermohon di hadapan Allah swt. Kita tanya diri kita??? Sebagai satu peringatan buat semua pendokong gerakan Islam.- Mohd Fairuz Jafar

Wednesday, 7 May 2008

Mus`ab ibn `Umayr... How About Us ???

Mus`ab ibn `Umayr was born and grew up in the lap of affluence and luxury. His rich parents lavished a great deal of care and attention on him. He wore the most expensive clothes and the most stylish shoes of his time.

Mus`ab’s Journey to Islam

Mus`ab knew that Muhammad and those who believed in his message were gathering in a house near the hill of As-Safa to evade Quraysh harassment. Mus`ab went there and met the Prophet who welcomed him.In this first meeting with the Prophet (peace and blessings be upon him), the young and decisive Mus`ab declared his acceptance of Islam.

After embracing Islam, Mus`ab’s concern was his mother who totally opposed his Islam, tied and confined him under her watchful eyes so as to prevent him from contacting Muhammad and his faith. Despite his ordeal, Mus`ab did not waver.

His Migration to Abyssinia:
Mus`ab heard that a group of Muslims were preparing secretly to migrate to Abyssinia to seek refuge and relief. His immediate thoughts were how to escape from his prison and join them. At the first opportunity, when his mother and his warders were off-guard, he managed to slip away quietly. Then with utmost haste, he joined the other migrants, and before long they sailed together across the Red Sea to Africa. For him, as for many other Muslims, life in Makkah was becoming more and more intolerable.

After about ten years of inviting people to Islam, most of Makkah still remained hostile. The Prophet (peace and blessings be upon him) then went to At-Ta’if seeking new adherents to the faith. He was repulsed and chased out of the city. At that time, the future of Islam looked bleak.
Mus`ab as an Ambassador to Yathrib:

It was just after this that the Prophet (peace and blessings be upon him) chose Mus`ab to be his "ambassador" to Yathrib to teach a small group of believers who had come to pledge allegiance to Islam and prepare Madinah for the day of the great Hijrah.No doubt that Mus`ab was chosen for this task because of his noble character, his fine manners and his sharp intellect. His knowledge of the Qur’an and his ability to recite it beautifully and movingly was also an important consideration.

He entered Madinah as a guest of Sa`d ibn Zurarah of the Khazraj tribe. Together they went to people, to their homes and their gatherings, telling them about the Prophet (peace and blessings be upon him), explaining Islam to them and reciting the Qur’an.Less than a year after his arrival in Yathrib, Mus`ab returned to Makkah in the season of pilgrimage with a group of seventy-five Muslims from Madinah. Again at `Aqabah, near Mina, they met the Prophet (peace and blessings be upon him). There they solemnly undertook to defend the Prophet (peace and blessings be upon him) at all cost.

Great Mujahid:

Mus`ab continued to play a major role in the building of the new community. The next momentous situation in which we meet him was during the great Battle of Badr.

Mus`ab also participated in the battle of Uhud, and he fell a martyr in that battle. After that battle was over, the Prophet (peace and blessings be upon him) then cast his tender eyes over the battle field on which lay the dead Companions – including Mus`ab - and said: “The Messenger of Allah testifies that you are martyrs in the Sight of Allah on the Day of Judgment.”Then turning to the living Companions around him he said: “O People! Visit them, send peace on them. By Him in whose hand is my soul, any Muslim who sends peace on them until the Day of Judgment, they would return the salutation of peace.”

Sunday, 27 April 2008

Dah Lama Ku Tak Menulis

Assalamualaikum wbt.

Sudah lama aku tak menulis di blog ini. Lantaran kesibukan menyiapkan pelbagai tugasan terutama yang berkaitan dengan hal praktikum yang baru berakhir pada 25 April 2008. Satu pengalaman indah yang ku temui di Sekolah Kebangsaan Bayan Lepas bersama adik - adik pelajar yang pelbagai ragam. Tapi alhamdulilallah ,kemesraan antara aku dan adik- adik pelajar ku terjalin erat. Masih keep in touch dengan mereka.

Hari ni pulak baru habis mengendalikan program Kursus Pra Perkahwinan Islam 2008. Agak sibuk sebagai Pengarah Program KPPI - 08 ini. Tetapi, dengan kekuatan yang Allah SWT anugerahkan kepadaku bersama sokongan padu adik-adik ikhwah akhawat yang bertungkus lumus inginkan kejayaan kursus ini dianjurkan, maka tercapai juga apa yang kita hajati. Kali terakhir institut ini menganjurkan program Kursus Pra Perkahwinan Islam ialah 4 tahun yang lalu. Ketika itu aku masih di Year 1 degree juga memikul amanah sebagai pengarah program. Ku harapkan, apa yang telah dilaksanakan, adik -adik ku ikhwah dan akhwat dapat mengambil pengajaran bagaimana untuk melaksanakan program ini. Aku cetuskan idea untuk anjurkan kursus ini adalah untuk membantu mencari sumber kewangan persatuan yang adik - adik ikhwah akhwat dokongi. Tiada apa untuk diriku yang hanya tinggal seketika waktu sahaja lagi untuk bersama kalian di sini. Ku harapkan dari pada mu adik-adik ku ikhwah akhwat untuk terus semarakkan gerak kerja dakwah di institut ini khususnya. Aku hanya insan biasa, sumbangan ku bersama kalian tidak seberapa. Kenangan-kenangan ini bersama kalian akan tetap ku kenang sampai bila - bila.

Keindahan Bersama MU...satu slogan yang tidak asing lagi bagiku. Program motivasi bersepadu yang ku kendalikan ini insyaAllah akan terus ku gerakkan demi untuk memastikan keberlangsungan dakwah a'mmah di dalam masyarakat. Fasilitator - fasilitator baru dan bakal - bakal pengendali akan ku cuba lahirkan untuk mengantikan posisi ku sebagai pengendali Keindahan Bersama MU setelah ketiadaanku nanti, kerana aku belum pasti kemana akan ku di"postingkan".Janjiku pada diriku, akan ku lahirkan insan - insan yang lebih jauh hebat gerak kerja dakwahnya dari diriku.

Setakat ini dulu coretanku kali ini.

Sayang selalu..salam 3S...Hayatilah,
Indahnya bersama Ilahi
Indahnya bersama Rasul
Indahnya bersama Ibu Ayah
Indahnya bersama Teman-teman
Indahnya bersama di Jalan Dakwah

Love U So Much...

by,
Mohd Fairuz Jafar

Thursday, 24 January 2008

MUZIK : ANTARA HALAL DAN HARAM

Oleh: Dr. Anisah Abd. Ghani

Sedari kecil lagi kita dibuai dan didodoi oleh ibu tersayang dengan dodoian dan lagu kasih sayang permata hatinya, tanpa lagu dan dodoian ibu si kecil susah nak tidur. Apabila kita masuk sekolah kita di ajar pula dengan lagu bek bek kambing hitam adakah bulu?, Apabila besar sedikit kita telah pandai menyanyi lagu negara ku. Setelah meningkat remaja mula menyanyikan lagu lagu cinta. Apabila mencecah usia emas, lagu lagi instrumental nostalgia menjadi pilihan. Jadi kehidupan kita akan merasa sunyi tanpa irama dan lagu. Terasa pincang jika irama dan lagu dipisahkan dalam rutin harian kehidupan.

Apakah hukum memainkan alat muzik itu harus?. Apakah mendengar muzik dalam bentuk instumental tanpa nyanyian itu haram? Apa pula hukumnya mendengar muzik beserta nyanyian ? Bagaimana pula mendengar nyanyian bersilang jantina? Seterusnya kalau mendengar muzik dan nyanyian itu diharuskan apakah ia boleh dikira sebagai ibadah sehingga seorang yang mendengar muzik dan nyanyian akan mendapat ganjaran pahala? Pastinya sebagai sumber hukum dalam sebuah agama yang lengkap dan sesuai untuk semua tempat, orang dan zaman, Al Quran tidak mengabaikan walau sedikit pun urusan manusia. Pasti ada hukumnya. Begitu juga dengan mengenai persoalan persoalan diatas.

Penulisan-penulisan fiqh klasik membahagiakan alat muzik kepada dua, yang bertali dan tidak bertali. Penggunaan alat muzik yang bertali dihukumkan haram yang tidak bertali pula sebagai harus. Namun demikian, kajian dan penulisan fiqh terkini tidak melihat kepada sudut jenis alat muzik, tetapi ia melihat kepada rentak dan irama yang dihasilkan oleh alat tersebut . Apakah ia meransang pendengarnya sehingga lalai, lupa diri dan lupa Allah?. Ataukah ia merangsang pendengarnya sehingga dapat menaikkan semangat patriotik, rasa sedar diri dan ketakwaan kepada Allah.

Jenis yang pertama dikira haram dan kedua dikira harus. Jadinya hukum asal menggunakan alat muzik adalah harus, samada dipetikkah, dipukul kah, di gesek kah di tiupkah atau lainnya. Yang mengharam atau mengharuskannya ialah cara penggunaannya yang melahirkan rentak, lagu dan irama. Kadangkala alat muzik dimainkan dengan iringan penyanyi Dalam hubungan ini selain daripada bentuk rentak, lagu dan irama, cara persembahan penyanyi dan lirik nyanyian juga perlu dilihat sama. Sekiranya ia dipersembahkan dengan penampilan yang mengghairahlkan, meransang nafsu dan syahwat, sehingga lupa diri dan Allah,Ia tidak diharuskan.

Begitu juga lirik lagu yang lucah, memuji sesuatu yang haram, mengagungkan syaitan dan syawat dan cinta berahi yang keterlauan, ungkapan ungkapan syirik dan kufur, lirik-lirik yang bercanggah dengan semangat syariat maka hukumnya haram. Mendengar muzik berlaku dalam berbagai bentuk, mendengar muzik tanpa nyanyian, mendengar muzik beserta nyanyian, mendengar sambil menonton penyanyi menyanyi.

Hukum asal mendengar muzik tanpa nyanyian, mendengar muzik beserta nyanyian, mendengar sambil menonton penyanyi menyanyi adalah ‘harus’ tetapi ‘beryarat’. Syaratnya ialah rentak, irama, lagu dan liriknya tidak melalaikan, mengkhayalkan, membawa kepada lupa diri dan lupa Allah. Persembahan dan penampilan penyanyi juga mestilah menutup aurat dan geraknya tidak menghairahkan pendengar dan penonton.

Selain dari sifat muzik, rentak, irama, lirik, cara dan perlakuan sipendengar ketika mendengar muzik juga akan menentukan hukum mendengar muzik. Keterlauan yang melampau, ketagih serta gian dalam mendengar muzik akan merubah hukum harus mendengar muzik kepada haram. Ia telah termasuk kepada perbuatan sia-sia dan boleh mendatangkan kesan kesan yang negatif. Pendengar akan tergoda, terbawa-bawa dan terfitnah dengan kemerduan suara penyanyi dan senikata serta lirik dan tergoda kepada batang tubuh penyanyi. Keadaan hukum ’harus’ mendengar muzik, nyanyian dan menonton persembahan penyanyi boleh di simpulkan seperti berikut:

1. Mendengar muzik nyanyian dan menonton persembahan yang rentak irama, lagu dan liriknya meransang semangat berani, gagah perkasa, patriotik contohnya rentak ‘march’.

2. Mendengar muzik nyanyian dan menonton persembahan yang rentak irama, lagu dan liriknya meniupkan rasa keinsfan, sedar diri, mengenang kebesaran Allah dan menuju ketakwaan kepada Allah.

3. Mendengar muzik nyanyian dan menonton persembahan yang rentak irama, lagu dan liriknya dapat menenang jiwa, menghilangkan tekanan perasan, mengenyahkan kebosanan serta mengembalikan kesegaran spiritual, jasadiah dan emosi . Jadi bolehkah mendengar muzik itu menjadi ibadah?

Untuk semua perbuatan boleh di kira sebagi ibadah ia mestilah memenuhi syarat syarat berikut:

1. Perbuatan itu diterima syarak
2. Perbuatan itu dilakukan menurut tuntutan dan peraturan syarak
3. Perbutan itu dilakukan ikhlas kerana Allah
4. Perbuatan itu dilakukan oleh muslim Dalam konteks mendengar muzik nyanyian dan menonton persembahan dengan rentak, irama, lagu dan liriknya, selagi memenuhi empat syarat di atas ia boleh dikira sebagai ibadah dan mendapat pahala.

Sekiranya ia tidak memenuhi syarat ini maka tidak lagi dianggap sebagai ibadah malah termasuk sebagai perbuatan yang sia sia dan dilarang disisi syarak.

[Penulis adalah seorang pensyarah Fiqh dan Usul di Universiti Malaya)
Penulisan ahli ahli wanita JIM di Berita Harian dalam kolumn Wadah Wanita Islam setiap Rabu. Salah satu projek Dakwah Bil Qalam Wanita JIM

Friday, 18 January 2008

ANCAMAN KEPADA RAKYAT MALAYSIA !

Jika kalian ingin mengetahui apakah FTA, boleh rujuk artikel yang ana masukkan di blog ini sebelum ini.

Dipetik dari Harakah Daily ;

KUALA LUMPUR, 18 Jan (Hrkh) - Teras Pengupayaan Melayu (Teras) membantah sekeras-kerasnya perundingan perejanjian perdagangan bebas 'Free Trade and Agreements (FTA) di antara Malaysia dan Amerika (AS) yang kini diteruskan di Kuala Lumpur baru-baru ini.


Presiden Teras, Mohd Azmi Abdul Hamid berkata jelas dasar terbuka yang terlalu luas kepada AS sangat bahaya buat Malaysia kerana kesan kepada pengusaha kecil dan sederhana termasuk syarikat berkaitan kerajaan (GLC) akan menghadapi saingan yang tidak adil.
"Kerajaan jangan mengambil sikap berahsia dalam perundingan ini. Rakyat berhak untuk mengetahui kenapa perundingan ini diteruskan.
"Kita kesal terhadap sikap kerajaan yang sehingga ini tidak mahu mendengar protes rakyat dalam hal yang akan merugikan rakyat jika AS dibenar untuk masuk ke pasaran ini tanpa had," katanya dalam satu kenyataan media kepada Harakahdaily.


Katanya kenyataan James R.Keith, wakil perdagangan AS yang menyatakan bahawa sasaran utama FTA Malaysia - AS ialah sektor perolehan kerajaan membuktikan AS benar-benar mahu masuk dalam tender kerajaan yang selama ini telah dapat membantu usahawan tanah air khususnya bumiputera. AS katanya sememangnya ingin menguasai sebanyak mungkin sektor di negara ini atas alasan ia akan membantu pertumbuhan ekonomi di negara ini.


Terdahulu Ogos tahun lalu berhadapan gedung dan pasar raya di Jalan Tuanku Abdul Rahman menyaksikan sebilangan rakyat berdemonstrasi melaungkan dan menjerit marah kepada Menteri Perdagangan Antarabangsa dan Industri Dato' Seri Rafidah Aziz kerana masih meneruskan usaha rundingan 'Free Trade Agreement' (FTA) dengan Amerika yang dilihat sebagai satu usaha menjajah di samping menindas rakyat negara ini.


Demonstrasi yang bermula di Dataran Merdeka itu dianjurkan oleh Gabungan Rakyat Malaysia Membantah FTA Amerika- Malaysia yang terdiri daripada beberapa pertubuhan bukan kerajaan NGo seperti Teras, Gerakan Mansuh ISA (GMI),Jerit, Suaram, wakil Mahasiswa, komuniti penduduk setinggan, pekerja ladang, pekerja kilang termasuk wakil-wakil daripada PAS, Parti Sosialis Malaysia, KeADILan.


Kelihatan ketika itu sepanduk-sepanduk dan kain rentang bertulis ' Jahaman Amerika','Jangan telanjangkan rakyat Malaysia' dan 'Jangan Biar Amerika jajah Malaysia' adalah antara slogan yang mewarnai dan menyemarakkan suasana malah biarpun terik matahari memancar orang ramai kelihatan tidak berganjak daripada lokasi tersebut.


Dalam pada itu sewaktu menyampaikan ucapan di hadapan para peserta dan khalayak ramai pagi tadi, Azmi menyelar sikap pemimpin kerajaan yang tidak mengendahkan nasib rakyat yang bakal tertindas akibat daripada perjanjian FTA ini. "Kami bantah sekeras-kerasnya dan akan melakukan tindakan yang lebih keras sekiranya Malaysia tidak berundur dan membatalkan perjanjian itu," dan tambahnya lagi " dan ternyata rundingan FTA ini menunjukkan ada tali barut dalam kerajaan Malaysia!" katanya tegas. "Dan kita kutuk perjanjian ini. Rafidahlah bertanggungjawab dan dia adalah agen Amerika!" katanya sambil disambut sorak oleh para peserta demonstarsi.


Kata Azmi lagi, rakyat Malaysia tidak rela sekali lagi dijajah setelah 50 tahun Merdeka dan rundingan FTA ini merupakan bentuk penjajahan baru yang bakal menggadaikan kedaulatan negara. "Kita tidak mahu berundur ke belakang dan Malaysia dibawa ke zaman penjajahan semula," kata Arutchelvan Setiausaha Agung penaja Parti Sosialis Malaysia yang turut memberi ucapannya ketika demonstrasi tersebut.


"Rafidah Agen Amerika!"Jahanam Jahanam Amerika!","Pak Lah Tidur!" adalah antara laungan orang ramai termasuk peserta demostrasi yang kelihatan benci dengan sikap pemimpin negara yang tidak langsung membela rakyat yang semakin tertindas tetapi bertindak demi mengaut keuntungan peribadi.


Gerakan Anti dan membantah FTA ini tidak hanya berlaku di Malaysia malah di negara-negara yang turut mengadakan rundingan dengan Amerika Syarikat seperti di Thailand, lebih 50,000 rakyatnya berdemonstrasi di Bangkok.


Menurut risalah Jerit yang diedarkan kepada orang ramai pada waktu itu,ketika perbincangan FTA kedua dijalankan, lebih kurang 50,000 rakyat Korea telah membanjiri jalan raya kerana membantah tindakan kerajaan mereka manakala di Equador dan Miami turut berlaku siatuasi amarah rakyat membantah kerajaan mereka membantah rundingan FTA ini.


"Teras mendesak agar perundingan FTA ini dihentikan sama sekali dan pihak kerajaan meneruskan perdagangan dengan AS seperti yang sedia ada tanpa perlu mengikat dengan perjanjian yang akan menjebak Malaysia dalam kawalan AS yang merbahaya dalam jangka masa panjang," katanya dalam kenyataan media tersebut

Saturday, 12 January 2008

Sekadar Nak Kongsi...

Ini adalah perkongsian yang ana tulis di dalam karisma-operasi.

Assalamualaikum ikhwah dan akhawat penggerak perjuangan Islam. Moga Allah sentiasa memberkati kita dan sentiasa meredhai setiap gerak kerja kita demi melihat sinar Islam kembali menyuluhi pelusuk dunia.


Ada pepatah menyatakan, langkah yang ke seribu bermula dengan langkah yang satu. Jika langkah pertama tidak dimulakan, manakan ingin menjangkau langkah yang ke seribu. Begitu juga kita para penggerak dakwah, biarpun pada peringkat awal, mungkin jumlah kita sedikit, apatah lagi pelbagai cabaran menimpa untuk menanggung segala mehnah dan tribulasi dalam menggerakkan usaha-usaha mendaulatkan agama Allah. Sirah perjuangan Rasul SAW menjadi motivasi yang cukup bermakna bagi penggerak dakwah. Kesusahan yang di alami oleh Baginda Rasul ketika awal Islam lebih hebat tentangannya daripada apa yang kita alami. Begitu juga nilai istiqamah para sahabat yang rata - ratanya terdiri dari golongan pemuda menjadi satu "booster" kepada kita seandainya kita menghayati dengan sepenuh jiwa laluan dakwah mereka. Moga Allah sentiasa merahmati mereka.InsyaAllah.


Alhamdulllah, hari cuti minggu. Semalam bersama usrah adik2 junior di kolej ini. Dan pagi ini kami adakah riadah bersama. Ini lah kali pertama kami adakan riadah bersama untuk semester ini yang baru bermula sejak dua minggu lepas. Alhamdulillah, sedikit usaha ini menampakkan kesungguhan adik2 untuk menggerakkan usaha2 dakwah. Bagaimana dalam usrah mingguan pun, setiap kali usrah ada pertambahan mad'u baru. Ahamdulillah, dari dua minggu lepas yang mana telah dua kali usrah di jalankan sudah ada pertambahan 3 mad'u baru. Dan pada pagi ini, riadah yang kami jalankan beberapa orang pelajar yang belum join usrah pun turut serta dan merasai betapa eratnya hubungan silaturahmi dalam amal jamaie. Kami pagi tadi berjongging kurang lebih 4km dari jam 7.20 pagi hingga jam 9.00 pagi. Dan aktiviti ini ana jemput sahabat ana, seorang pelajar yang cekap dlm physical education untuk memimpin kami. Walaupun dia belum lagi bersama halaqah usrah, tapi insyaAllah moga2 satu ketika akan bersama dengan kita. Malah aktiviti kami ini juga, kami mempelawa sahabat yang non muslim utk bersama dengan matlamat memahami ikatan ukhwah dalam persaudaran Islam. Moga2 ia menjadi salah satu agenda dalam dakwah masyarakat majmuk di kampus yang kecil ini.


Aktiviti kami pagi ini menjadi perhatian bangsa-bangsa lain yang berlainan agama dengan kita. Pendekatan yang lebih Islamic dan menyerlahnya gambaran ukhwah fillah membuatkan mereka turut bersama kami melakukan aktiviti riadah bersama kami di taman rekreasi Bukit Dumbar. Alhamdulillah.


InsyaAllah, cita-cita kami, seluruh masyarakat kampus akan bersama dengan kami. Dan adik2 ikhwah yang istiqamah ini menjadi model kepada pelajar2 lain dalam merencana nilai-nilai hidup yang lebih unggul untuk kecemerlangan dunia dan akhirat.


Sekadar ini sahaja perkongsian dari ana dari kampus Institut Perguruan Persekutuan, Pulau Pinang (i4p). Teruskan gerak kerja kita. FIDAK 2015 indaman kita. Moga2 kita menikmati KEINDAHAN BERSAMA ALLAH, RASUL, IBU BAPA DAN TEMAN2.


Salam ukhwah, salam 3S, salam PERJUANGAN. SALAM KEINDAHAN BERSAMA MU...


ALLAHU AKBAR ! ALLAHU AKBAR ! ALLAHU AKBAR !

Wednesday, 19 December 2007

Rahsia Kekuatan Islam Yang Dilupakan

Pada tengah hari di suatu hari Jumaat ketika sembahyang fardhu Jumaat yang pertama ketika hendak didirikan di Konstantinople, Muhammad Al-Fateh berdiri di hadapan perajuritnya. Lantas beliau berkata siapakah antara kita yang akan terpilih menjadi imam solat Jumaat yang pertama di bumi yang bari sahaja diIslamkan. Masing – masing anggota tenteranya memandang antara satu sama lain. Sungguhpun sebagai panglima, Muhammad Al-Fateh tidak pernah memandang dirinya sebagai yang terbaik,sifat rendah diri dan zuhudnya menyebabkan beliau masih memberikan ruang kepada anggota tenteranya memilih yang terbaik antara mereka semua.

Melihat semua anggota tenteranya diam, Muhammad Al-Fateh mencadangkan mereka membuat satu pemilihan. Lantas beliau mengarahkan para tentera termasuk dirinya bangun. Lalu berkatalah Muhammad Al-Fateh kepada seluruh anggota tenteranya yang baru sahaja menawan Konstantinople itu, ”Siapakah antara kamu sejak akil baligh tidak pernah meninggalkan sembahyang fardhu? Jika ada sila duduk!” Tetapi tidak seorang pun tenteranya duduk dan ini menunjukkan bahawa tidak ada tenteranya yang meninggalkan sembanhyang fardhu sejak akil baligh.

”Siapakah antara kamu yang sejak baligh hingga kini pernah meninggalkan sembahyang sunat rawatib?” Pada ketika itu barulah ada tenteranya yang duduk dan separuh lagi masih berdiri. ”Siapakah pula antara kamu yang sejak baligh tidak pernah meninggalkan sunat tahajud?” Kini semua anggota tenteranya duduk kecuali Muhammad Al-Fateh, ternyata sejak baligh Muhammad Al-Fateh tidak pernah meninggalkan solat fardhu, solat sunat rawatib dan solat sunat tahajud.

Rasulullah s.a.w pernah bersabda bahawa ,” Konstantinopl akan jatuh ke tangan seorang ketua yang baik, tentera yang baik, dan rakyat yang baik.” Apa yang telah dilakukan oleh Muhammad Al-Fateh itu tidak mampu dilakukan oleh pahlawan – pahlawan Islam sejak zaman Khalifah ar-Rasyidin, zaman Umar Abdul Aziz dan ketika kegemilangan kerajaan Abbasiyah di Baghdad. Betapa ramai syuhada yang ingin menjadi pemimpin terbaik seperti yang terkandung di dalam hadis Rasulullah s.a.w, bagaimanapun Allah telah menetapkan bahawa manusia terbilang itu ialah Muhammad Al-Fateh.

Umat Islam pada suatu ketika dahulu menjadi umat yang kuat bukan sahaja kerana teknologi dan kekuatan senjatanya. Tetapi Islam menjadi kuat kerana pada ketika itu umat Islam tidak kira mereka pemimpin, hartawan, tentera dan rakyat adalah muslimin yang taat pada agama. Itulah kunci yng mana Allah memberikan pertolongan kepada Muhammad Al-Fateh Konstantinople yang pada ketika itu dikelilingi kota batu yang kukuh dan dikawal ratusan ribu tentera Rom.

Kisah ini menjadi satu pengajaran penting bagi semua pemuda pemudi yang mendokong perjuangan Islam. Kemenagan itu akan hampir kepada pendokong perjuangan apabila hubungan dengan Allah juga cemerlang di samping usaha yang istiqamah dan semangat perjuangan untuk mendapatkan redha Allah itu kukuh terpateri di dalam jiwa setiap pejuang. Ayuh kita muhasabah diri kita. Di dalam kehidupan kita seharian, sejauh manakah kita menjaga hubungan kita dengan Allah? Adakah seperti pemuda hebat bernama Muhammad Al-Fateh? Tepuk dada tanya iman.

Mohd Fairuz Jafar
KARISMA P.Pinang

Monday, 17 December 2007

Sekadar Satu Perkongsian

Bismillahirrahamanirrahim.

Sudah beberapa minggu aku tidak berkesempatan untuk menulis di blog ini lantaran kesibukan yang menghambat diriku. Sibuk dengan peperiksan akhir semester dan beberapa program yang perlu aku hadiri.

Alhamdulillah, akau habis peperiksaan semester pada 30hb November 2007, hari yang sama juga berlangsung program mukhayam bersama teman-teman JIM Kedah di Teluk Duyung. Malangnya aku tidak dapat bersama mereka walaupun niat asal ingin bersama. Perancangan Allah itu lebih hebat dari perancangan manusia.

1 Disember aku pulang ke rumah. Sudah lama tak balik rumah atas kesibukan diri ini. Alhamdulillah, dapat berjumpa dengan mak, ayah dan adik-adik. Aku habiskan masa di rumah dengan membantu mak dan ayah membersihkan rumah di samping aku menggunakan masa ku untuk membaca dan menulis di samping menghafal beberapa ayat – ayat suci al-Quran dan beberapa potong hadis sebagai mutaba’ah amal.

7 Disember aku bertolak ke Sekolah Menengah Sains Pokok Sena (SAINA) untuk bersama dengan teman-temanku mengendalikan Summer Camp di bawah pengurusan Akrab Managment Sdn Bhd. Inilah rutinku apabila cuti semesterku selari dengan cuti sekolah. Sejak tahun 2003 aku terlibat sebagai fasilitator program Summer Camp. Program yang berlangsung sehingga 11 hb Disember ini sentiasa meningalkan kesan di dalam hati kecil ku sebagai salah seorang fasilitator yang mengendalikan peserta – peserta program. Program Summer Camp ini memfokuskan kepada kemantapan ibadah dan kecemerlangan hidup berdasarkan lima prinsip yang digariskan iaitu kecintaan kepada Allah, kecintaan kepada Rasul, kecintaan kepada ibu bapa, kecintaan kepada ummah dan kecintaan kepada kecemerlangan.

Semasa program Summer Camp kali ini, aku mengendalikan 11 orang peserta tingkatan 2. Perkara pertama yang aku semak dari adik – adik ini ialah syahadatain mereka. Rupanya, ada di antara mereka tidak tahu mengucapkan dua kalimah syahadah dan tidak mengerti apa itu syahadatain. Kedaan ini sama seperti aku mengendalikan satu program bersama teman – teman K-Fasi KARISMA Pulau Pinang di Pulau Jerjak beberapa bulan yang lalu yang mana program itu adalah program bersama Kelan Remaja JIM (KRJ Pulau Pinang) dan sebuah sekolah menengah di Pulau Pinang di mana ada ramai di antara peserta tidak tahu mengucapkan dua kalimah syahadah.

Berbalik kepada Summer Camp. Aku memberikan lebih perhatian kepada adik – adik Summer Camp yang tidak tahu syahadatain dan tidak tahu mengerjakan solat. Ada yang tidak tahu bagaimana niat solat lima waktu. Bayangkan, sudah tingkatan 2, sudah baliqh tetapi solat nya tidak pernah ditunaikan. Jika dilakukan pun hanya mengikut pergerakan orang lain tetapi tidak memahami apakah intipati solat yang sebenar. Aku mengajar adik – adik ini syahadatain. Menunjukkan cara yang betul untuk berwudhuk dan mengajar mereka cara yang betul menunaikan solat. Alhamdulillah, selepas 4 hari 3 malam aku ”memproses” mereka, mereka yang asalnya tidak tahu mengucap dua kalimah syahadah, tidak tahu solat, tidak tahu membaca surah al-Fatihah sudah mampu melaksanakan solat. Biarpun hanya perkara rukun sahaja yang mereka lakukan di dalam solat mereka, alhamdulillah bagiku mereka sudah mampu menunaikan solat daripada tidak bersolat terus-menerus.

Semasa program ini juga, seperti biasa aku melakukan slot muhasabah diri bersama adik- adik di bawah jagaan ku. Aku mengorek rahsia – rahsia yang terbuku di hati kecil mereka. Remaja – remaja ini apabila kita dekati dengan penuh hemah dan kasih sayang insyaAllah mereka akan meluahkan rasa hati dan masalah mereka. Mereka menyatakan mereka juga ingin menjadi manusia yang baik, tetapi mereka mudah tergoda dengan ajakan teman- teman mereka. Mereka juga meluahkan rasa dan menitiskan air mata bila aku menceritakan detik – detik kamatian manusia. Mereka mengatakan kepada aku sambil memelukku, ”Abang Yuzz, saya ingin bertaubat, saya tak akan tinggal solat lagi, saya tak sabar nak peluk cium ibu saya dan minta dihalalkan air susu ibu yang mengalir dalam tubuh saya, saya nak minta ampun pada ayah atas dosa-dosa saya”. Alhamdulillah, moga kesedaran dan keinsafan adik –adik ini berterusan.

Cuma, amat ku bimbangi mereka akan kembali kepada kajahilan mereka apabila bersama teman – teman di luar sana. Selalu aku katakan kepada ibu bapa kepada anak – anak Summer Camp ini,”Pakcik dan makcik, kami abang – abang dan kakak – kakak fasi hanya boleh berusaha dalam 4 hari 3 malam ini membantu membuka mata hati adik – adik ini melihat kebenaran, menjunjung tinggi Allah SWT. Taat pada perintah Allah. Tapi masa kami hanya 4 hari, seterusnya makcik dan pakciklah yang mesti meneruskan pentarbiyahan ini, dan yang paling penting janganlah tinggal untuk bersolat berjamaah bersama anak-anak ini”. Moga – moga kata – kata ku ini mereka hayati, insyaAllah.

Mengenangkan apa yang berlaku kepada remaja – remaja ini menyedarkan aku tentang tanggungjawabku sebagai seorang muslim. Program – program seperti ini lebih membuka mata dan minda ku betapa meruncingnya krisis aqidah dan akhalak di kalangan remaja – remaja Islam. Aku mula bertanya kembali kepada diriku yang kerdil ni apakah aku sudah berusaha atau sedang berusaha dalam dakwah untuk kembali menyedarkan ummah? Apakah aku sedang bekerja untuk masa depan ummah? Atau aku masih leka dan berkhayal dengan perkara – perkara lagha dalam kehidupanku. MasyaAllah..menitis air mata mengenangkan perjuangan Rasulullah saw untuk membawa ummat manusia kepada cahaya kebenaran. Teringat kisah kehidupan pemuda Mus’ab bin Umair yang meninggalkan kehidupan mewah untuk melebarkan sayap dakwah agama suci ini. MasyaAllah, di manakah usaha aku untuk mengislahkan diriku dan ummah manusia??? Persoalan ini sentiasa bermain di benak mindaku. Ya Allah...jadikan aku hamba yang berada dalam saf perjuangan agamamu.

12 Disember , aku bertolak ke Pulau Pinang. Memandu seorang diri bertemankan alunan – aluanan ayat – ayat yang mulia bacaan Syeikh Masyari menuju ke Sekolah Tahfiz Islah (STAIL). Alhamdulillah, program Tamrin Nuqaba’ KARISMA Pulau Pinang amat bermanfaat bagi pencinta – pencinta perjuangan Islam merangka strategi dakwah. Moga – moga apa yang dipelajari semasa tamrin seperti tadabur surah As-Saff, dakwah fardiyah, amal jamaie, dan sebagainya dapat diterjemahkan dalam kehidupan peserta program dalam menggerakkan dakwah, InsyaAllah.

Jika dari saat ini kita masih leka dan alpa dengan keindahan dan kenikmatan dunia yang sementara dan seolah – olah lupa nikmat syurga yang lebih mengiurkan dari nikmat dunia, renungkanlah nasib ummat 10 tahun akan datang. Jika ada di kalangan remaja Islam hari ni sudah tidak tahu syahadatain, bagaimana kehidupan mereka 10 tahun akan datang. Ya..mungkin mereka boleh berjaya dalam akademik, tapi rohnya kosong. Jiwa nya kaku. Mungkin kerjayanya hebat, tapi rasa ketuhanan tidak ada. Soal dosa pahala, syurga neraka tidak ada dalam diri mereka. Maka akan lahirlah pentadbir – pentadbir yang rasuah, pecah amanah, khianati hak rakyat, materialistik dan sebagainya. Maka ia menjadi tanggungjawab kita untuk memperkasakan dakwah dan gerak kerja jamaah, InsyaAllah.

Ya Allah..bantulah kami, kuatkan jiwa kami, teguhkan pendirian kami dalam perjuangan menegakkan agamaMu. Berilah hidayahMu kepada saudara – saudara kami yang masih jahil terhadap keagunganMu...Ya Allah...hampirkanlah kemenangan kepada kami agar syariatmu tertegak di muka bumi ni..Ameen.

Mohd Fairuz
KARISMA Pulau Pinang